![]() |
| Gambar : dari suatu platform yang lupa dari mana |
Beberapa pengalaman terberat dalam hidupku hingga detik ini adalah :
Mensyukuri yang ada ketika seorang ibu sudah tiada. Sederhana saja seharusnya, cukup dengan bersyukur karena life must go on. Tapi kesederhanaan itu buyar setelah menjadi ibu dari anakku, melewati proses “sederhana” dengan bersyukur itu terasa rumit. Kata orang “ibu juga butuh ibu”, atau kata seorang anak “dunia akan baik-baik saja selama nenek dari seorang ibu masih ada”. Bahkan sepenggal lagu saja membuatku iri dengan liriknya,
“Dunia boleh saja menahanku
Atau perlahan bongkar mimpikuDunia boleh saja melawanku
Kupunya doa Ibu” —Tapi, Perunggu.Aku membenci lagu itu.
Sebenarnya sederhana itu bagaimana? Tiap aku melupakan ibuku, aku tidak akan sedih namun rindunya berat. Saat aku mengingat ibuku, kenangan indah hadir namun rasa sedihnya sangat kuat.
Perihal menyusui. Saat ibu lain mengeluh sakitnya menyusui karena tekanan mulut dari bayi, satu bulan pertama aku tidak merasakan sakit yang indah itu. Sebuah kesederhanaan menyusui menjadi rumit ketika tidak ada yang memberi tahu dan mengajarkan. Satu bulan penuh berjuang dengan tuntutan manusia lain supaya berat badan anak ideal. Sedangkan aku kacau terngiang-ngiang : Bagaimana cara memberi makan anak sendiri dengan darah di tubuh, air mata di wajah, dan tali kusut dalam pikiran.
Katanya “berusaha saja nanti juga bisa.” Ya memang bisa, namun keberhasilan itu tidak dibayar dengan sederhana yang kata orang lain katakan bahkan di luar nalar mereka. Mau tahu bagaimana aku mendapatkannya?
Aku berteriak menangis sampai menembus ke luar pintu rumah, baru lah sampai ke langit, Tuhan mengabulkan rasa sakit itu menjadi mudah.
Perihal makan. Katanya, gak apa-apa anak cuma makan buah yang penting masuk makan. Padahal isi pikiranku buah bukan kalori yang besar. Gak apa-apa gak usah didengerin yang penting anaknya aktif, padahal saat ke dokter spesialis banyak PR dan harus check up ini-itu. Dar! Sebenarnya kita sedang berpikir sederhana atau hanya menipu diri karena tidak siap menerima kenyataan?
"Everything should be made as simple as possible, but not simpler." —Albert Einstein. Berarti kita harus mencari kesederhanaan dalam menjelaskan atau merancang sesuatu, tanpa menghilangkan esensi penting atau detail krusial. Intinya adalah menghindari penyederhanaan berlebihan (oversimplification) yang justru membuat pemahaman menjadi salah atau kehilangan kedalaman.
Sumber : medium.com/@dodikurniawan71
Ketika membaca kutipan Einstein, seringkali menanggapi terlalu cepat : “yah pokonya semuanya harus dibawa simpel.” Lalu bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaanku dari 3 poin di atas yang katanya sederhana? Buktinya Tuhan pun turun tangan ketika aku sudah mulai gila setelah mencari ilmu sana-sini soal menyusui.
Paling parahnya, jika kita mengetahui suatu hal yang tidak bisa dibiarkan, namun pikiran kita memotong, tidak mau pusing, lalu percaya pada ego sendiri bahwa itu tidak apa-apa dan bukan apa-apa. Sama saja seperti kita mengetahui kebenaran tapi kita tenggelam pada kebohongan agar pikiran dan hati tetap nyaman. Bayangkan bagaimana Eintein di akhirat akan marah ketika memahami kata “simple” dengan cara begitu.
Dari semua kesederhanaan yang orang lain bilang, aku tidak pernah merasakan kesamaan itu dibanding apa yang kualami. Hal yang dapat ku ilhami adalah, kita memang sama-sama manusia tapi CARA menjalani hingga mendapatkan sesuatu itu tidak dibisa disama-samakan.
Sambil mengetik dan berpikir, kunci untuk keluar dari permasalahan berat ini adalah memercayai, menghadapi dan memperbaiki. Bukan menyembunyikan, semakin sembunyi, dan menjadi sakit. Faktor keputusan-keputusan yang diambil terhadap hal kecil dan besar juga akan sangat berpengaruh mau dibawa ke mana hidup ini. Maka dari itu, kejujuran menjadi fondasi. Jujur mengakui kesulitan saat sedang kesusahan. Jujur membedakan kebenaran dan kebohongan, lalu berani lari dari lingkaran tipuan yang nyaman. Jujur memahami kekurangan yang sedang terjadi.
Kadang, memotong pikiran agar sederhana adalah sebuah fatamorgana yang ternyata hanya menipu diri.
Sampai pada akhirnya, kita harus sadar bahwa kerumitan itu tidak apa-apa. Kita harus selalu mengakui kerumitan untuk menemukan kesederhanaan ke depannya.


