![]() |
| Ilustrasi : Pinterest |
Lirik lagunya jadi berubah : It's such a fucked situation, lived in Wowo’s gov era.
Kalau “Petal in The Pavement” milik Ariana Grande menceritakan seorang seniman, sang bintang papan atas yang harus bergelut dengan rasa cemas di bawah tekanan popularitas, ekspektasi publik, serta tuntutan industri hiburan. Versi WNI ini agak berbeda, makna metafora tersebut seolah kami ini manusia biasa yang seharusnya berarti tapi dipaksa hidup di bawah tekanan in this wowo’s Gov era yang nilainya justru tidak diprioritaskan.
Banyak berita buruk bermunculan sejak Prabowo-Gibran menjabat. Aktris pun yang katanya bertalenta dan berpendidikan tinggi seperti Maudy Ayunda saja capek denger bad news era mereka. Padahal berita yang didengarnya itu tak sekadar dengar, tapi dialami langsung oleh segelintir orang. Duh Maudy, jangan capek dulu. Usaha skincare-mu itu salah satunya memanfaatkan sumber daya Kalimantan dan Papua.
Berita : Karhutla
Kebakaran hutan dan lahan, sudah 3 bulan rakyat Kalimantan tidak melihat matahari, bintang atau bulan. Yang mereka rasakan hanyalah kabut dan asap. Spektrum warna pun tak lagi mereka kenal selain warna seputar pembakaran—kalau tidak abu, ya merah, atau kuning gelap. Laut pun tak lagi berwarna biru melainkan cokelat. Tak ada yang berlarian sembari tertawa di sana. Jangankan itu, jalan raya saja tertutup asap sampai-sampai nyawa taruhannya. Mereka yang masih dituntut untuk sekolah, dipaksa keadaan untuk bekerja, mencari uang, namun tertabrak oleh kendaraan lain akibat minim penglihatan terhalang asap. Belum lagi penyakit yang diderita oleh anak-anak dan bayi. Aku saja tidak kuat menghirup asap rokok dari satu orang, merasa mencekik tenggorokan, mual, dan sakit kepala. Bagaimana dengan teman-teman di sana yang menghirup kontaminasi udara dari asap kebakaran lahan ratusan hektar? Bahkan tak hanya manusia, di negeri ini hewan yang tak mengganggu manusia pun, ikut menderita. Apakah menurut Bapak, ini hanya sekadar asap dan warna?
Berita : Korupsi Dana Bencana di BNPB
Drama apa lagi-kah ini? Di tengah krisis bencana Indonesia, entah itu kebakaran, abu vulkanik, banjir, dll kenapa berita ini hadir di tengah-tengah keparahan 3 bulan pasca karhutla? Jujur, trust issue sebagai rakyat biasa ke pemerintah atas sudah level beribu-ribu. Jadi apakah ini tumbal agar jajaran atas tidak disalahkan atau memang benar-benar dikorupsi? Tapi jika iya dikorupsi pun, aku sarankan tidak usah lelah untuk kaget wahai rakyat sejawatku. Karena barangkali memang sekacau ini negeri kita sedari dulu. #nyerah
Berita : Keracunan MBG
Yang paling gila, anak-anak di Kalimantan dipaksa untuk sekolah karena MBG tetap harus berjalan. Shit?! Kalau memang mau ngambil keuntungan, jangan sambil matiin anak orang, please. Bukan hanya dari makananmu saja, tapi dari keadaan yang penuh asap ini juga. Berita lain tentang keracunan sebelum dibakarnya hutan Kalimantan, sudah sangat sering sejak awal diadakannya program MBG. Sampai nemu berita, siswi berprestasi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara bernama Febiola kehilangan ingatan 70% usai makan MBG. WTF. Sampai detik ini, MBG masih berjalan bahkan untuk waktu ke depan (2027) MBG akan menghabiskan dana triliunan menggerus dana-dana pokok lain seperti BBM, listrik, LPG, dll. What’s actually on your mind, Pak?
Berita : Kopdes
Salah satu program yang amat wajib dicurigai sebagai rakyat biasa adalah Koperasi Desa. Koperasi yang dibangun dengan asal, tumpang tindih, tidak jelas. Pernahkah kalian melihat Kopdes yang sudah ada isinya? Barang atau orang? Sejauh ini, aku belum pernah. Proyek pembangunan memang menggiurkan bukan? Isinya mah belakangan dah~ Apalagi cabangnya banyak bahkan berdekatan. Lebih banyak dari jumlah sekolah dan rumah sakit.
Berita : Pajak
Rakyat kerja kantoran dipajakin. Rakyat usaha offline atau online dipajakin. Eits…Kendaraan gak cukup pajak per tahun aja, pajak 5 tahunan dan pajak balik nama juga. Rumah warisan keluarga dan lahan kosong rakyat dipersulit administrasi dan ujung-ujungnya uang lagi. Rakyat jual rumah/lahan/kendaraan kadang buat memenuhi kebutuhan hidup malah dimintain duit dulu lewat potongan bak bik buk~. Rakyat dagang kecil-kecilan dipalakin preman dan ormas yang dilindungi pemerintah. Buku-buku dipajaki, penulis tercekik apalagi pembacanya. Gak jadi deh pinternya, beli bukunya juga setara beli beras lima kilo. Segala diduitin adalah jalan ninjaku, Bravo Capitalism!
Berita : Korupsi Pakan Hewan
Miris waktu melihat hewan-hewan di kebun binatang, kurus seolah tinggal kulit. Tulang mereka sangat kecil, wajahnya tidak segar. Ya Allah. Ingin sekali rasanya berbisik pada salah satu harimau, “kamu kabur aja ke Australia atau Singapura, kalian bakal gendut di sana. Cakar aja manusia yang mengganggu”. Jujur, aku bukan orang yang gemar pada hewan, karena punya takut berlebih pada tekstur berbulu atau kenyal (haha ngerti gak sih?). Tapi aku suka sekali kalau lihat manusia yang sangat menyayangi hewan atau hewan yang makannya cukup, badannya bersih, segar dan sehat. Bahagia sesama makhluk hidup. Tapi ini manusia korupsi pakan hewan, seriously? Your value is lower than that of animals.
Berita : Eksploitasi Lingkungan
Sudah menonton film dokumenter Pesta Babi? Film ini mengangkat isu eksploitasi lingkungan, deforestasi, dan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang berdampak pada masyarakat adat di Papua Selatan. Pesta Babi menjadi simbol perlawanan rakyat Papua terhadap eksploitasi tersebut. Selain itu, dibabatnya pulau hijau Raja Ampat untuk dijadikan tambang nikel demi keuntungan pribadi mereka. Y’all can’t eat money.
Pidato Presiden
Bahkan bukan berita semacam straight news, investigasi dan semacamnya, pidato presiden saja sudah cukup bikin mual yang nonton. Tapi kalau yang nonton para penjilat sih enggak. Mereka tepuk tangan dan tertawa lepas bahkan saat rakyat dipanggil antek-antek asing atau para pakar dibilang Goblok saking pinternya, katanya. Huh! Seberapa capek kalian?
Mungkin masih banyak berita buruk yang tidak disebutkan. Sembari menulis ini, apa berita baik bagi negeri ini? Apakah berbanding lebih besar daripada berita buruknya? Setidaknya apakah tak ada yang mati atau sakit hari ini karena ulah serakah manusia?
Pernah rasanya ingin lari dari berita buruk tapi hati berkata lain, karena aku merasa harus “melihat” tanah di mana kutumbuh. Entah lewat repost, menulis, membaca berita, apapun agar para serakah itu tidak lebih serakah lagi jika kami tidak mengawasi mereka. Karena sebenarnya, kami ini manusia berarti, layak hidup, layak diprioritaskan, layak diperjuangkan. Entah itu bayi baru lahir sampai kakek-nenek tua, kami semua ada untuk Indonesia. Bayangkan jika tidak ada petani, bagaimana setitik biji akan tumbuh menjadi makanan yang mengenyangkan? Bayangkan jika tidak ada buruh, bagaimana kita menikmati barang sehari-hari jika tidak dibuat oleh tangan mereka. Bayangkan jika tidak ada cerewetnya anak-anak, bagaimana negeri ini berjalan maju tanpa generasi emas? Bayangkan jika tidak ada ibu-bu, bapak-bapak, nenek-kakek, hewan-tumbuhan, batu, rumput, tanah, air dan semua yang ada di bumi ini yang punya peran dengan porsi mereka masing-masing?

Kami semua ini adalah bunga, cantik dan indah. Namun karena harus hidup dalam keadaan pemerintahan kacau-balau dan tidak becus seperti ini, bunga indah tersisa kelopak yang sebagian rontok di jalanan akibat diinjak-injak, tergeser-geser, terseret-seret sama halnya bunga seuprit yang tumbuh di retakan trotoar jalan.
Bagi pemerintah atas itu, sepertinya kami sangat kecil.

