![]() |
| Gambar : Pinterest |
Rasanya puas banget habis nonton film satu ini, layak menjadi pemenang dalam ajang penghargaan apapun. Terutama saat masa pemerintahan Indonesia sekarang ini, yang amat tone deaf.
Film ini secara penuh berlatar di sel tahanan tapi hebatnya bisa menahan mata penonton di layar tanpa jenuh.
Terdapat ragam latar belakang kejahatan para tahanan, termasuk yang tidak menerima keadilan dalam hidupnya tapi harus masuk penjara. Film ini sangat frontal dalam menyebutkan kasus-kasus yang familiar dan masih hangat terjadi dengan menyindir negara Indonesia tanpa ragu sedikit pun, “…… ya ini kan Indonesia bukan Norwegia”. Begitulah kira-kira kalimat yang sering dilontarkan pemain dalam film ini. Kasus yang disebutkan mengarah pada satu tema, yaitu korupsi.
Joko Anwar, dalang dari film ini, tak ragu juga menyebutkan kasus nikel, provinsi Kalimantan yang digerus sumber daya-nya, sel tahanan yang eksklusif bagi para koruptor. Bahkan ada tokoh seorang dosen yang berani mengungkap kasus korupsi berakhir di penjara. Tokoh utama bernama Anggoro yang lahan rumahnya digusur oleh pemerintah dan pengusaha rakus lalu Anggoro membalas dengan merampok si pengusaha tersebut alih-alih untuk memenuhi kebutuhan keluarganya juga, tapi berakhir di penjara. Tokoh utama lainnya bernama Dimas seorang jurnalis yang meliput soal korupsi tapi dituduh membunuh bos-nya. Namun ada pula kejahatan-kejahatan yang “asli” dari tokoh lain seperti penipuan, pembunuhan, dll.
Film ini sangat cerdas dalam mengungkapkan perasaan marah terhadap pemerintah lewat imajinasi liar yang digambarkan oleh tokoh hantu di sini. Hantu tidak digambarkan secara fisik melainkan secara psikologis. Hantu yang ada di tahanan menangkap aura negatif dari orang yang sedang marah, kesal, sedih dan semacamnya. Lalu membunuh orang tersebut secara brutal dengan menyajikan “hasil pembunuhan” yang amat sadis sesuai dengan apa yang menjadi kebiasaan atau yang sering dilakukan orang itu selama hidup dan sesuai dengan apa yang dipikirkan orang tersebut pada saat itu.
Uniknya dari film ini, hantu terus mengejar aura negatif dari orang-orang biasa bukan pejabat yang dosanya sangat banyak. Secara implisit, pejabat Indonesia yang dipenjarakan tidak merasa punya beban batin apalagi psikis, tidak merasa ada perubahan signifikan walaupun sudah dihukum karena baik di dalam atau di luar penjara masih terjamin hidup enak dan nyaman. Sedangkan orang biasa yang punya kejahatan sekecil apapun terus merasa bersalah, berpikir keras tentang kehidupannya sendiri dan keluarganya di luar penjara. Merasa dosa mereka adalah yang terberat di dunia dibandingkan para koruptor yang bermuka tebal.
Sampai pada suatu hari, setelah hantu ini banyak memakan korban, terilhami-lah oleh satu geng kecil di sel tahanan untuk mengejar satu orang yang punya dosa paling banyak agar hantu ini bisa lenyap. Ya, koruptor di sel mewah itu, Prakasa Kitabuming. Ia punya segalanya mulai dari uang sampai aset dari hasil korupsi tambang nikel. Dengan cara memancing amarah Prakasa agar muncul aura negatif, sampailah hantu tersebut memutilasi Prakasa dengan cara paling brutal, paling memuaskan penonton dengan penggambaran sajian pembunuhan yang nyeni abis. Pedang yang diselimuti uang dan darah, posisi kepala buntung diinjak oleh kaki dan tubuhnya, organ-organ tubuh dengan kuah darah di atas piring dan gelas mahal.
Dari film ini saya merasa diajak Joko Anwar untuk menghukum pendosa di pemerintahan. Walaupun lewat imajinasi, namun keliaran itu justru membuat saya puas. Mungkin karena tidak bisa membunuh secara nyata? Haha. Film ini definisi kritik tanpa berisik, marah tanpa lelah.
Selain itu saya merasa banyak menerima pesan dan pelajaran berharga. Pertama, out of topic soal koruptor, “hantu” itu hadir ternyata dari pikiran sendiri, saat menemukan kasus bunuh diri, ternyata beban yang dipikul sangatlah berat secara psikis sampai gak bisa kontrol diri kalau tidak bisa mencurahkannya. Mau itu bercerita, nulis jurnal, olahraga, ibadah atau aktivitas positif lain yang bisa mengalihkan. Dan itulah yang terjadi pada masyarakat kita sekarang, yang lemah yang mengalah.
Kedua, melawan penguasa itu sangat sulit. Butuh tenaga, kekuasaan, pengaruh, bahkan uang. Karena yang namanya penguasa sudah rakus, mereka termasuk orang-orang yang sudah lupa diri dan lupa bumi.
Ketiga, film ini juga mambawaku kepada satu kesimpulan yang menenangkan. Saat sebuah film menjadi harapan banyak orang pada situasi pemerintah hari ini, saya mendapatkan poin ternyata marah dalam bentuk apapun, ketika subjek yang dituju tidak mau menerima, lalu kita bisa apa selain bersolidaritas dan berserah? Di saat kekuatan dan keluhan manusia sudah tidak bisa menyentuh hati para pendosa, maka Tuhan akan membalasnya entah dengan tangan pendosa sendiri atau pun “tangan” Tuhan sekali pun. Terdengar klasik memang mendengar semuanya diserahkan kepada yang di Atas. Tapi itu salah satu usaha manusia biasa seperti kita ini untuk tidak lupa diri dan tidak lupa bumi seperti mereka bukan?

